26 Jan 2026, 204 View
ALOR — Kondisi Kabupaten Alor belakangan ini kerap dianalogikan publik sebagai daerah yang “terombang-ambing”. Pernyataan keras bahkan sempat terlontar dari anggota DPRD, Yahuda Lanlu dan Joni Tulimau, yang mengibaratkan jalannya pemerintahan seperti pesawat yang berjalan tanpa pilot. Analogi ini menggambarkan kegelisahan masyarakat atas arah kepemimpinan dan stabilitas birokrasi daerah.
Di tengah situasi tersebut, muncul pula kecurigaan publik terkait hubungan antara DPRD dan Pemerintah Daerah yang disebut-sebut mulai merenggang. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Selama dua tahun terakhir, hubungan antara dua lembaga strategis ini relatif kondusif, komunikatif, dan jauh dari konflik terbuka. Salah satu figur kunci di balik stabilitas tersebut adalah Sekretaris DPRD Kabupaten Alor, Ibu Terince Mabilehi.
Sebagai Sekwan, Terince Mabilehi memainkan peran sentral dalam menjembatani komunikasi politik dan administratif antara DPRD dan Pemerintah Daerah. Dengan pendekatan yang tenang, berimbang, dan profesional, ia memastikan bahwa dinamika politik tidak berujung pada kebuntuan birokrasi. Berkat perannya, tidak ada persoalan serius yang mencuat atau berkembang menjadi konflik kelembagaan selama dua tahun terakhir ini.
Sosok Terince Mabilehi dikenal luas sebagai figur perempuan berhati dingin, yang mampu membaca situasi dan mengelola perbedaan dengan kepala dingin. Di tengah tekanan politik, tarik-menarik kepentingan, serta ekspektasi publik yang tinggi, ia tetap berdiri sebagai penyeimbang, menjaga marwah lembaga dan memastikan roda pemerintahan tetap berjalan sesuai aturan.
Lebih dari sekadar menjalankan tugas administratif, Terince Mabilehi kini tampil sebagai simbol pahlawan birokrasi masa kini. Keikutsertaannya dalam seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (Sekretaris Daerah Kabupaten Alor) bukanlah sekadar partisipasi formal, melainkan representasi dari perjuangan perempuan dalam menembus batas-batas struktural yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.
Seperti halnya semangat R.A. Kartini yang memperjuangkan kesetaraan akses, langkah Terince mengikuti seleksi Sekda merupakan bentuk perlawanan terhadap stigma lama bahwa jabatan puncak birokrasi daerah hanya layak diisi oleh kaum pria. Ia membuktikan bahwa kapabilitas, integritas, dan rekam jejak tidak mengenal gender.
Dalam kepemimpinannya, Terince memadukan ketegasan pada aturan dengan empati yang mengayomi. Pendekatan nurturing yang kerap dilekatkan pada sosok perempuan justru menjadi kekuatan tersendiri. Ia menunjukkan bahwa birokrasi tidak hanya membutuhkan tangan besi, tetapi juga sentuhan kemanusiaan. Inilah bentuk kepemimpinan transformasional yang sangat relevan untuk mengelola ASN di Kabupaten Alor.
Jika tokoh seperti Rasuna Said dikenal melalui kegigihan suaranya di ruang publik, Terince Mabilehi menunjukkan “suara” kepemimpinannya melalui rekam jejak, profesionalisme, dan konsistensi menaati aturan. Ia mengikuti setiap tahapan seleksi secara terbuka, objektif, dan berintegritas. Sikap ini mencerminkan nilai kepahlawanan modern: berdiri tegak di atas aturan, bukan di atas kepentingan.
Kehadiran Terince dalam kompetisi Sekda juga membawa pesan kuat, khususnya bagi perempuan muda di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Alor. Bahwa perempuan dapat menjadi “tuan di rumah sendiri”, menduduki posisi strategis melalui prestasi, bukan privilese. Bahwa ruang pengabdian di pemerintahan terbuka luas bagi siapa pun yang memiliki kapasitas dan dedikasi.
Terince Mabilehi membawa semangat kepahlawanan perempuan ke dalam struktur pemerintahan daerah. Ia menegaskan bahwa menjadi Sekda bukan soal kekuasaan, melainkan soal perluasan ruang pengabdian demi tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan kemajuan Bumi Nusa Kenari.
Di tengah daerah yang kerap disebut berjalan tanpa arah, sosok seperti Terince Mabilehi justru hadir sebagai penunjuk arah—tenang, konsisten, dan penuh dedikasi. Sebuah keteladanan yang patut diapresiasi dan dijaga.
Editor : Airon Salek
2
0
1
0
0
0