18 Jun 2026, 6 View
Asril Manan: Indonesia Terjebak dalam “Primitif Modern”, Saatnya Kembali ke Pancasila serta Kejujuran
Kesadaran Berbangsa, Integritas Moral, dan Kepemimpinan Berkualitas Dinilai Menjadi Kunci Masa Depan Indonesia
REDAKSIDAERAH.COM – Pengamat sosial dan tokoh masyarakat, Asril Manan, menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini.
Menurutnya, bangsa Indonesia sedang menghadapi fenomena yang ia sebut sebagai “Primitif Modern”, yakni kondisi ketika kemajuan teknologi dan pembangunan tidak diiringi dengan kemajuan moral, kejujuran, serta integritas masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Asril Manan dalam tulisannya yang menyoroti berbagai persoalan nasional, mulai dari praktik politik, korupsi, lemahnya keteladanan pemimpin, hingga menurunnya kesadaran spiritual di tengah masyarakat.
*Indonesia Dinilai Mengalami Krisis Kejujuran*
Menurut Asril Manan, salah satu persoalan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini adalah semakin sulitnya menemukan keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara objektif.
Ia menilai banyak pihak lebih memilih mengikuti kepentingan kelompok, jabatan, maupun keuntungan pribadi daripada memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
"Kita telah terperangkap dalam lubang ketidakjujuran," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa jika tidak segera diperbaiki melalui pendidikan karakter dan keteladanan dari para pemimpin.
*Kritik Terhadap Sistem Politik dan Demokrasi*
Dalam pandangannya, sistem politik yang berjalan saat ini masih menyisakan banyak celah yang memungkinkan terjadinya praktik politik uang dan tingginya biaya demokrasi.
Asril Manan menilai bahwa sistem pemilihan langsung memerlukan evaluasi menyeluruh karena membuka peluang besar bagi kompetisi yang lebih mengandalkan kekuatan modal dibandingkan kualitas kepemimpinan.
Ia bahkan mengkritik fenomena yang membuat hubungan politik menjadi sangat pragmatis, di mana lawan dapat dengan mudah berubah menjadi kawan, dan sebaliknya, demi kepentingan tertentu.
Menurutnya, reformasi sistem politik harus dilakukan dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
*Kembali pada Nilai Ketuhanan*
Asril Manan juga menekankan pentingnya membangun kembali kesadaran spiritual sebagai fondasi utama kehidupan bangsa.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga ketidakadilan sosial berakar pada semakin jauhnya manusia dari nilai-nilai ketuhanan.
Ia mengajak masyarakat untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui beberapa tahapan pembinaan diri, yaitu:
1. Ma'rifatullah
Mengenal Allah SWT secara lebih mendalam sehingga setiap tindakan selalu berlandaskan keimanan.
2. Muraqabah
Merasakan kehadiran Allah di mana pun berada sehingga muncul kesadaran untuk menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.
3. Muhasabah
Melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan terhadap seluruh aktivitas dan ibadah yang dijalankan.
4. Istiqamah
Memegang teguh prinsip kebenaran dan kejujuran meskipun menghadapi berbagai tekanan maupun risiko.
Menurutnya, ketika nilai-nilai tersebut tumbuh dalam diri setiap individu, maka praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan dapat diminimalkan.
*Kekayaan Indonesia Belum Dikelola Optimal*
Asril Manan juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang dinilainya belum memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan rakyat.
Ia menilai masih banyak potensi bangsa yang belum dikelola secara mandiri dan berkeadilan sehingga hasil kekayaan alam lebih banyak dinikmati oleh pihak lain.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, serta kesadaran nasional dalam menjaga dan mengelola kekayaan bangsa.
*Indonesia Butuh Pemimpin Berkualitas*
Dalam tulisannya, Asril Manan mengutip filosofi Minangkabau:
"Tampak jauh, gadang jolong basuo."
Filosofi tersebut menggambarkan sosok pemimpin yang mungkin tidak banyak dikenal dari kejauhan, tetapi ketika bertemu langsung akan terlihat kualitas, ilmu, keteladanan, dan kebesaran jiwanya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga integritas, moralitas, serta keberanian dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
*Tingkatkan Kesadaran Berbangsa*
Menutup pandangannya, Asril Manan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan memperkuat rasa bangga sebagai warga negara Indonesia.
Menurutnya, kemajuan ekonomi, teknologi, dan pembangunan tidak akan memiliki makna besar apabila tidak dibarengi dengan pembangunan karakter, kejujuran, serta tanggung jawab moral.
"Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya dan maju, tetapi bangsa yang memiliki akhlak, integritas, serta kesadaran untuk menjaga masa depan bersama," tegasnya.
Editor : TE RD Sumbar
Sumber : Tulisan Opini Asril Manan
0
0
0
0
0
0