20 Mar 2026 - 179 View
Alor — Derita panjang dunia pendidikan kembali tergambar jelas di Desa Silaipui, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor. Bangunan SD Negeri Angin Rata yang mulai dikerjakan sejak tahun 2017 hingga kini tak kunjung selesai, menjelma menjadi simbol nyata kelalaian dan ketidakseriusan dalam membangun masa depan generasi muda di pelosok daerah.
Sudah hampir satu dekade, bangunan yang seharusnya menjadi tempat belajar yang layak bagi anak-anak justru berdiri setengah jadi—tanpa kepastian, tanpa tanggung jawab lanjutan. Dinding yang belum diplester, lantai yang masih berupa tanah kasar, serta atap yang hanya menutupi sebagian ruang menjadi pemandangan sehari-hari yang menyayat hati.
Menurut keterangan Nimrot Fadako, pembangunan gedung sekolah tersebut awalnya bersumber dari dana Kementerian sebesar Rp500 juta dengan rencana pembangunan tiga ruang kelas. Namun dalam perjalanan, melalui kesepakatan bersama antara pihak sekolah, komite, dan masyarakat, jumlah ruangan ditambah menjadi lima. Keputusan itu diambil dengan harapan dapat menampung lebih banyak siswa, meskipun harus mengorbankan kualitas bangunan yang jauh dari standar kelayakan.
Ironisnya, kesepakatan tersebut bahkan telah mendapat persetujuan dari Bupati Alor saat itu. Namun realisasi di lapangan justru jauh dari harapan. Pekerjaan dilakukan setengah hati—lantai tidak dikerjakan, plesteran dinding diabaikan, dan pengecatan tak pernah dilakukan. Atap hanya terpasang di bagian depan, sementara bagian belakang dibiarkan terbuka, seolah proyek tersebut ditinggalkan begitu saja tanpa rasa tanggung jawab.
Lebih parah lagi, satu ruangan bahkan belum selesai pada tahap struktur dasar. Pintu dan jendela yang sudah tersedia di lokasi hanya dibiarkan terbengkalai, tidak pernah dipasang, menjadi saksi bisu dari proyek yang kehilangan arah.
Kasus ini sempat menyeret sejumlah pihak ke ranah hukum. Laporan masyarakat ditindaklanjuti oleh Polres Alor hingga berujung pada proses hukum terhadap kepala sekolah dan pihak penyedia (suplayer). Keduanya telah menjalani hukuman dan dinyatakan bebas pada tahun lalu. Namun yang menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat adalah: setelah ada proses hukum, mengapa pembangunan tidak pernah dilanjutkan?
“Masalah hukum sudah selesai, tapi bangunan tetap terbengkalai. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas nasib anak-anak kami?” ungkap salah satu warga dengan nada geram.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena setiap kali ada kunjungan reses anggota DPRD, persoalan ini selalu disampaikan, namun tak pernah membuahkan hasil nyata. Aspirasi yang berulang kali disuarakan hanya berakhir sebagai catatan tanpa tindak lanjut yang jelas.
Upaya lain juga telah dilakukan. Mahasiswa asal Desa Silaipui yang sedang menempuh pendidikan di Kalabahi bahkan telah mencoba menemui Kepala Dinas Pendidikan dan Bupati Alor untuk menyampaikan langsung kondisi tersebut. Namun hingga kini, belum ada jawaban pasti, seolah jeritan masyarakat desa tidak cukup kuat untuk menggugah perhatian para pengambil kebijakan.
Selama kurang lebih 14 tahun, anak-anak SD Negeri Angin Rata terpaksa belajar dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Mereka duduk di ruang seadanya, berlindung dari panas dan hujan dengan fasilitas yang minim, bahkan terkadang harus berbagi ruang karena keterbatasan bangunan. Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi tentang hilangnya hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan yang bermartabat.
Masyarakat Desa Silaipui kini hanya bisa berharap agar pemerintah tidak lagi menutup mata. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Alor, Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, hingga Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah pusat untuk segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini secara konkret, bukan sekadar janji.
Gedung SD Negeri Angin Rata hari ini bukan hanya bangunan mangkrak, tetapi telah menjadi simbol kegagalan dalam memenuhi hak pendidikan anak-anak di pelosok negeri. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan hanya bangunan yang runtuh dimakan waktu, tetapi juga harapan generasi muda yang perlahan akan ikut hilang.
Masyarakat hanya bisa menunggu apakah jeritan ini akan kembali diabaikan, atau akhirnya ada tangan yang tergerak untuk memperbaiki masa depan generasi di pelosok
Kini, semua mata tertuju pada pemerintah apakah akan terus membiarkan, atau akhirnya bertindak menyelamatkan masa depan anak-anak di Desa Silaipui, Alor Selatan.
Editor : Airon Salek
0
0
0
0
0
3