25 Des 2025 - 302 View
Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Kesabaran Pemerintah Nagari Simawang akhirnya benar-benar habis. Aktivitas sembilan unit truk lohan bermuatan di atas 20 ton, ditambah mobilisasi alat berat proyek Preservasi Jalan Bukit Kanduang–Panjalangan, memicu kemarahan terbuka Walinagari Simawang. Jalan nagari yang bukan bagian dari paket proyek nasional justru dijadikan jalur lintasan, meninggalkan kerusakan serius dan keresahan luas di tengah masyarakat.
Walinagari Simawang menilai penggunaan jalan nagari tersebut sebagai tindakan sepihak, ugal-ugalan, dan miskin etika. Tanpa koordinasi resmi, tanpa kajian teknis, dan tanpa perlindungan struktur jalan, truk-truk bertonase tinggi bebas keluar-masuk wilayah nagari seolah jalan desa adalah “jalan negara cadangan” yang boleh dikorbankan.

“Kami tidak anti pembangunan. Tapi jangan jadikan nagari kami tumbal proyek miliaran,” tegas Walinagari Simawang, Firman Malin Panduko. Ia menekankan bahwa jalan nagari memiliki kelas dan daya dukung terbatas, jelas tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan lohan dan alat berat proyek nasional.
Kemarahan itu berdiri di atas fakta lapangan. Kerusakan terpantau di sejumlah jorong strategis seperti Jorong Pincuran Gadang, Koto Gadang, hingga Jorong Darek. Aspal terkelupas, badan jalan amblas, debu pekat beterbangan, dan mobilitas warga terganggu. Jalan yang dibangun dari dana rakyat nagari kini rusak bukan karena usia, melainkan karena “digilas” kepentingan proyek.
Silahkan baca terkait berita ini :
Ironisnya, kerusakan tersebut diakui sendiri oleh pelaksana proyek. Dalam surat pernyataan tertanggal 12 Desember 2025, PT Aska Beton Utama menyatakan bertanggung jawab atas kerusakan jalan nagari akibat lalu lintas alat berat dan truk material. Pengakuan ini menegaskan bahwa kerusakan bukan klaim sepihak pemerintah nagari, melainkan fakta yang tak terbantahkan.

Namun, bagi Walinagari Simawang, pengakuan di atas kertas tidak otomatis mengobati penderitaan warga. “Yang rusak itu jalan hari ini, yang susah itu warga hari ini. Bukan nanti,” ujarnya tajam. Ia menegaskan nagari tidak bisa terus menjadi jalur alternatif gratis bagi proyek APBN bernilai hampir Rp9,7 miliar.
Proyek Preservasi Jalan Bukit Kanduang–Panjalangan sendiri berada di bawah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Sumatera Barat, dengan nilai kontrak Rp9.613.877.000 dan masa kerja 35 hari kalender. Dengan nilai sebesar itu, publik patut bertanya: mengapa standar tata kelola dan mitigasi dampak justru tampak absen?
Sorotan keras juga diarahkan pada fungsi pengawasan. Walinagari mempertanyakan peran konsultan supervisi dan pengendali proyek yang seharusnya memastikan mobilisasi alat berat tidak merusak infrastruktur di luar paket pekerjaan. Fakta bahwa sembilan unit truk lohan bebas melintas tanpa pengaturan jam operasional dan pengamanan jalan menandakan lemahnya kontrol.
Jika praktik semacam ini dibiarkan, Simawang hanya akan menjadi contoh buruk pembangunan yang timpang: proyek nasional untung, nagari buntung. Pemerintah nagari menegaskan siap menempuh langkah administratif hingga hukum jika perbaikan jalan tidak segera direalisasikan sesuai surat pernyataan perusahaan.
Dampak kerusakan tidak berhenti pada aspal yang retak. Aktivitas ekonomi warga terganggu, biaya perawatan kendaraan meningkat, dan risiko kecelakaan mengintai setiap hari—terutama bagi anak sekolah dan pedagang kecil yang menggantungkan hidup pada akses jalan tersebut.
Kasus Simawang adalah alarm keras bagi penyelenggara proyek infrastruktur. Pembangunan tidak boleh dijalankan dengan logika “asal target tercapai”, apalagi dengan memindahkan beban kerusakan ke nagari yang tak menikmati manfaat proyek. Negara seharusnya hadir melindungi, bukan membiarkan jalan rakyat hancur demi mengejar progres.
RedaksiDaerah.com menegaskan akan terus mengawal persoalan ini. Publik berhak tahu apakah janji pertanggungjawaban akan diwujudkan dalam perbaikan nyata, atau kembali menguap seperti debu jalan Simawang yang kini setiap hari dihirup warganya.
----
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Fernando Stroom
Sumber: Liputan
0
0
0
0
0
0