18 Jan 2026 - 29 View
Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Jalan alternatif yang menghubungkan Simpang Silambiak–Bukik Mantobak, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas hingga Simpang Labuah Malintang, Nagari Tapi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara, kini menyisakan tanda tanya besar. Infrastruktur yang belum lama dibangun Pemerintah Kabupaten Tanah Datar itu diduga mengalami kerusakan serius pada penahan tebing di sejumlah titik krusial.
Pantauan langsung wartawan di lapangan menemukan banyak bagian penahan tebing yang retak, tergerus, bahkan amblas. Kondisi ini memicu potensi longsor, khususnya di bahu jalan yang berbatasan langsung dengan jurang-jurang dalam tanpa pengaman memadai. Jalan yang seharusnya menjadi solusi konektivitas justru berubah menjadi ancaman keselamatan.
Sepanjang ruas tersebut, jurang curam menganga di sisi jalan. Pada beberapa titik, jarak antara badan jalan dan jurang hanya tersisa hitungan puluhan sentimeter. Ironisnya, tidak ditemukan rambu peringatan, pagar pengaman, ataupun penguatan tambahan yang dapat meminimalkan risiko kecelakaan.
Situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan mengingat jalan tersebut merupakan akses vital penghubung dua kecamatan. Lalu lintas kendaraan roda dua dan roda empat cukup padat, terutama pada jam-jam aktivitas ekonomi masyarakat. Sedikit saja kesalahan manuver atau longsor kecil, dampaknya bisa fatal.
Padahal, proyek pembangunan jalan Bukik Mantobak ini tergolong baru. Publik pun mempertanyakan kualitas perencanaan dan pelaksanaan proyek. Apakah kajian geologi dan kontur wilayah sudah dilakukan secara matang, atau justru aspek keselamatan dikalahkan oleh target serapan anggaran?
Sejumlah warga pengguna jalan yang ditemui wartawan mengaku berada dalam dilema. Di satu sisi, jalan ini memang memangkas waktu tempuh secara signifikan. Dari Saruaso ke Pasar Balai Tangah, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jika melalui jalur Sungayang, waktu tempuh bisa bertambah hingga dua jam.
Namun di sisi lain, rasa takut selalu menghantui. “Kami sangat terbantu dengan adanya jalan Bukik Mantobak ini, tapi kami juga sangat was-was. Kami takut sewaktu-waktu jalan ini terban,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa. Efisiensi waktu seolah dibayar mahal dengan ancaman nyawa.
Kekhawatiran warga bukan tanpa dasar. Dengan kondisi penahan tebing yang rusak dan curah hujan yang kerap tinggi, potensi longsor dinilai tinggal menunggu waktu. Apalagi, wilayah tersebut dikenal memiliki struktur tanah yang labil.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya upaya serius dari instansi terkait untuk melakukan perbaikan darurat atau pengamanan sementara. Tidak ada papan proyek lanjutan, tidak pula tanda bahwa kondisi ini menjadi prioritas penanganan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan tajam: di mana fungsi pengawasan setelah proyek selesai? Apakah pembangunan jalan hanya berhenti pada seremoni peresmian, tanpa evaluasi berkelanjutan terhadap keselamatan publik?
Jika dibiarkan, kerusakan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi menyangkut potensi kelalaian yang bisa berujung pada korban jiwa. Pemerintah daerah semestinya tidak menunggu bencana untuk bertindak.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan dinas terkait untuk segera turun tangan, melakukan audit teknis, memperkuat penahan tebing, serta memasang pengaman dan rambu peringatan. Jalan alternatif seharusnya menjadi jalan aman, bukan jalur cepat menuju petaka.
----
Reporter: Tim Redaksi
Editor: RD TE Sumbar
Sumber: Liputan investigasi
0
0
0
0
0
0