Redaksi Sumbar

Rumah kayu lapuk milik keluarga korban banjir bandang di bantaran Sungai Batang Sumpur, Nagari Sumpur, Tanah Datar. Lima bulan pascabencana, keluarga ini masih bertahan tanpa bantuan hunian dari pemerintah daerah.

Batang Sumpur Kembali Mengancam, Korban Lama Masih Terlantar

5 Apr 2026 - 247 View

Rumah kayu lapuk milik keluarga korban banjir bandang di bantaran Sungai Batang Sumpur, Nagari Sumpur, Tanah Datar. Lima bulan pascabencana, keluarga ini masih bertahan tanpa bantuan hunian dari pemerintah daerah.

Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Lima bulan setelah banjir bandang menerjang Sungai Batang Sumpur di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, kisah pilu justru masih tersisa di tepian sungai itu. Di balik deru air yang kembali meluap pada Jumat, 3 April 2026, satu keluarga masih bertahan di rumah kayu rapuh yang sewaktu-waktu bisa terseret arus. Mereka hidup di garis paling tipis antara bertahan dan kehilangan segalanya.

 

Keluarga itu adalah keluarga Mardius (51). Bersama istrinya Erni Syofyan (54) dan anak-anak mereka—Rani Syofyan, Anisha Ramadani, serta Sucidlavi Mardani—mereka tetap tinggal di rumah yang sebelumnya sudah dihantam banjir bandang. Rumah tersebut berdiri hanya beberapa meter dari aliran Sungai Batang Sumpur yang kini semakin liar.

 

Ironisnya, di saat sebagian korban lain mulai menata kembali hidupnya dengan bantuan pemerintah, keluarga ini justru seperti terlupakan dari peta penanganan bencana. Tidak ada bantuan logistik, tidak ada hunian sementara, bahkan perhatian sederhana dari pemerintah nagari maupun pemerintah kabupaten nyaris tak terlihat.

 

Pantauan wartawan pada Sabtu, 4 April 2026 menunjukkan kondisi rumah tersebut jauh dari kata layak huni. Dinding kayu yang lapuk, lantai yang mulai tergerus tanah, serta atap bocor menjadikan rumah itu lebih menyerupai bangunan yang menunggu waktu runtuh.

 

Lebih memprihatinkan lagi, tanggul pengaman Sungai Batang Sumpur yang berada tidak jauh dari rumah mereka juga sempat jebol ketika air kembali meluap. Jika arus kembali membesar pada hari Jum'at, 3 April 2026 yang lalu, rumah itu bisa menjadi korban berikutnya.

 

Erni Syofyan mengaku keluarganya sebenarnya sudah didata oleh pemerintah Nagari Sumpur sejak awal pasca banjir bandang. Namun hingga hari ini, tidak ada satu pun bantuan yang mereka terima.

 

“Tidak pernah ada bantuan logistik sama sekali dari pemerintah Nagari Sumpur, apalagi rumah hunian sementara. Padahal waktu itu kami sudah didata oleh kepala jorong,” kata Erni kepada wartawan dengan suara lirih.

 

Menurutnya, kehidupan keluarga mereka memang jauh dari sejahtera. Selama puluhan tahun tinggal di kampung sendiri, mereka juga tidak pernah tercatat sebagai penerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT).

 

Penghidupan keluarga ini bergantung pada pekerjaan serabutan dan menangkap ikan bilih di sekitar aliran sungai batang sumpur. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

 

“Rumah kami sudah mau roboh. Kalau hujan, air masuk dari mana-mana. Anak-anak tidur pun kehujanan,” ujar Erni. Dengan mata berkaca, ia hanya berharap ada pihak yang mau membantu memperbaiki rumah mereka agar anak-anaknya bisa tidur tanpa takut diterjang hujan atau banjir.

 

Kondisi isolasi juga semakin memperburuk keadaan. Jalan menuju rumah keluarga tersebut hingga kini masih terputus akibat kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang lima bulan lalu. Akses yang rusak itu membuat keluarga ini seperti hidup di sudut kampung yang terlupakan.

 

Yang paling menyesakkan, lima rumah tetangga mereka yang sebelumnya hanyut oleh banjir bandang diketahui sudah menerima bantuan—baik logistik maupun pembangunan hunian tetap. Pertanyaan pun mengemuka: mengapa satu keluarga ini justru tertinggal dari daftar penerima bantuan? Hingga berita ini diterbitkan, RedaksiDaerah.com masih menunggu klarifikasi dari Wali Nagari Sumpur dan Bupati Tanah Datar Eka Putra terkait nasib keluarga korban yang hingga kini masih hidup di tepi ancaman Sungai Batang Sumpur.

----

Reporter: Tim Redaksi 

Editor: RD TE Sumbar 

Sumber: Liputan investigasi 

 

 

 

 

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

0

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

1

Wow
funny

0

Lucu
angry

0

Marah
sad

0

Sedih