22 Okt 2022 - 285 View
Karo,RedaksiDaerah.com
Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi di perkirakan lahir sekitar tahun 1540 di Desa Aji Jahe Tanah Karo. Beliau merupakan putra dari Raja Sierkelip Ngalehi Sembiring Pelawi Seorang Guru Mbelin atau Thabib dan ibunya adalah Njile Br Sinuhaji putri Pengulu Desa Aji Jahe dan Guru Pa Timpus lahir pada masa Kerajaan Aru atau Haru yang mulai mengalami kemunduran akibat serangan bala tentara Kesultanan Aceh yang di perintahkan oleh Sultan Iskandar Muda yang lahir di Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh pada tahun 1590 atau 1593 atau pada masa Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi Mendirikan Kuta Medan pada tanggal 1 Juli 1590.
Kemerdekaan kerajaan Aru atau Haru benar benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Hal ini dapat di ketahui berdasarkan suratnya bertanggal tahun 1613, dimana Sultan Iskandar Muda menulis dan menyatakan kemenangannya atas kerajaan Aru atau Haru dan pada masa inilah nama Aru atau Haru telah bertransformasi menjadi Deli.
Akibat kehancuran Kerajaan Aru atau Haru ini, Sultan Aceh Iskandar Muda mengirimkan Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula yang menyebutnya Laksamana Kuda Bintan atau Cut Bintan) untuk menjadi wakil di bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut.
Untuk memperkuat posisinya di daerah tersebut, Gocah Pahlawan menikahi adik Raja Urung Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti dan peristiwa ini di perkirakan sekitar tahun 1632.
Kerajaan Karo Islam yang dipimpin Raja Raja Urung dan kemudian berubah menjadi Datuk 4 Suku yang pada akhirnya menaklukkan diri ke dalam sebuah kesultanan baru, yang dikemudian hari dinamakan Kesultanan Deli. Hal ini terjadi semata-mata karena ikatan perkawinan Gocah Pahlawan yang menikahi adik Raja Urung Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti.
Datuk Sunggal merupakan salah satu dari empat kepala suku turunan Karo Islam. Sebagaimana kita ketahui, di pesisir timur ada empat kesukuan besar hasil dari migrasi penduduk Karo sebagai berikut :
Suka Piring, merga Bukit Sinuaji, Samura, Sikemit, Sembiring dan Karo Sekali.
Sepuluh Dua Kuta, merga Purba, Ketaren, Guru Singa, Sinubulan, Ginting, Sembiring Pelawi
Senembah, merga Barus (mayoritas) keturunan Simbelang Pinggel dan beberapa merga lain dalam jumlah kecil.
Serbanyaman, merga Sinulingga, Surbakti asal desa Gajah sebagai marga mayoritas
Beberapa kaum ini akhirnya menghilangkan marganya, walaupun masih ada juga yang tetap memakai Merga Karo setelah masuk Islam dan bersatu dalam 4 suku sesuai daerah tempat tinggalnya, yakni:
Suku Suka Piring.
Suku Sepulu Dua Kuta Hamparan Perak.
Suku Senembah.
Suku Sunggal Serbanyaman.
Dengan adanya pernikahan tersebut, ke empat datuk tersebut sepakat untuk mengangkat Gocah Pahlawan menjadi raja. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli pun berdiri, meski masih di bawah pengaruh Kesultanan Aceh.
Dalam proses penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja atau Sultan Deli. Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat yang terdiri dari 4 kepala suku tadi.
Sebagai bukti sejarah, nama Deli tercantum dalam “Daghregister” VOC di Malaka sejak April 1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Berdasarkan cerita di atas, tidak berlebihan jika disebutkan nama Deli berasal dari Delhi, karena pendirinya memang berasal dari sana dan keturunannya juga berasal dari Suku Karo dengan ibu Nang Baluan Br Surbakti sebagai Permaisuri pertama Sultan Deli.
Setelah Gocah Pahlawan meninggal dunia, pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Istananya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.
Dalam masa kehidupan Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi yang ikut andil mendirikan Kerajaan Sepulu Dua Kuta atau Raja Urung menjelang keruntuhan Kerajaan Aru atau Haru. Sehingga terbentuk 4 Raja Urung yang menguasai wilayah sekitar Medan dan Deli Serdang saat ini.
Dalam kehidupannya, Guru Pa Timpus menikah pertama kalinya sekitar tahun 1565 dengan Gerik Br Barus Putri dari Tanda Senina dan ada pula yang menulis anak Raja Ketusing dan di karuniai anak laki laki bernama Sibenara, selanjutnya lahir si Keluhu, Batu, si Salahan, Paropa, Liang Taneh. Sedangkan anak ketujuh yang merupakan anak perempuan di kawinkan dengan Raja Tengging.
Perkawinan kedua dengan Cirum Br Ketaren yang merupakan putri dari Pengulu Desa Raya
dan mendapat 2 orang anak laki laki yakni si Jenda menjadi Raja di Aji Jahe dan si Gelit.
Selanjutnya Guru Pa Timpus datang dan menyelesaikan perkara di Batukarang dan menikah ke tiga kalinya dengan Putri Raja Urung Lima Senina Bangun Batukarang yakni Kuliling Br Bangun dan mendapat serta dikarunai 1 orang anak laki laki dan di namainya si Aji dan mendirikan kampung Perbaji di lereng Gunung Sinabung. Sedangkan di Desa Perbaji ini lahir anak kedua laki laki yang di namainya si Raja Kita dan menjadi Raja di Desa Durin Kerajaan di Langkat tahun 1583.
Dalam setiap tempat dan ketika Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi menikah, maka di setiap tempat yang ditemukannya, beliau dengan pernikahannya mempunyai anak dan pada setiap tempat itu pula beliau membuat perkampungan dan merajakan anak-anaknya di kampung kampung seperti Benara, Kuluhu, Batu, Salahan, Parera, Liang Taneh, Perbaji, Durian Kerajaan dan Kuta Medan.
Pada tahun 1589 dengan usia 49 tahun, Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi untuk ke 4 kalinya menikah dengan beru Tarigan putri Panglima Hali Tarigan Pengulu Pulu Berayan dan di karuniai 2 orang anak laki laki yang bernama si Kolok dan si Kecik.
Kedua anak Guru Pa Timpus ini setelah mendapat pendidikan agama, nama mereka berubah menjadi Hafiz Tua yang menjadi ulama dan tidak memiliki keturunan dan Hafiz Muda Sembiring Pelawi yang meneruskan garis keturunan Guru Pa Timpus menjadi Raja Urung Sepulu Dua Kuta.
Selanjutnya keturunan Guru Pa Timpus ini terdiri dari Datuq Hafiz Muda di gantikan Datuq Muhammad Syah Darat, Datuq Mahmud, Datuq Ali, Datuq Hasim, Datuq Banu Hasyim, Sultan Sri Ahmed, Datuq Adil, Datuq Gombak, Datuq Hafiz Haberham dan Datuq Syariful Azas Haberham.
Setelah pernikahan itu, Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi dan istrinya beru Tarigan putri Pengulu Pulu Berayan membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Madaan.
Medan berasal dari kata "Madaan" yang artinya dalam bahasa Karo adalah sehat ketika orang orang menemuinya untuk berobat karena profesi beliau sebagai Thabib atau Guru dan Dukun besar pada jamannya yang ahli dalam pengobatan dan ahli dalam Niktik Wari dan Mbaba langkah atau ahli dalam membaca nasib seseorang dengan perhitungan hari kelahiran berdasarkan kalender Karo Wari si Telupuluh.
Tanggal kejadian Kuta Medan di panteki atau di dirikan tersebut sesuai dengan almanak Karo Wari si telupuluh jatuh pada Nggara 10 Paka 5 Paka Bulung Bulung La Terpan Wari Janggut Janggut Kalak Kati dan Barang Berharga Raja Raja yang menurut perhitungan tahun Masehi jatuh pada tanggal 1 Juli 1590, yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan
Kuta Madaan ini akhirnya lama kelamaan berubah menjadi Medan yang menjadi wilayah Raja Urung Negeri Sepulu Dua Kuta.
Dari catatan sejarah dan hikayat serta dokumen Risalah Riwayat Hamparan Perak dan penelitian team penyusun sejarah kota Medan yang di pimpin Prof Mahadi dkk 12 Agustus 1972 serta buku sejarah Hari Jadinya Kota Medan 1 Juli 1590 karya Dada Meuraxa 1 Mei 1975 maka Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi telah di tetapkan sebagai Pendiri atau Simantek Kuta Medan pada tanggal 1 Juli 1590 dan Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi wafat di Desa Lama di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang dalam misi pengobatan dan dakwah dan kuburannya di temukan pada bulan Juli 2010.
Keberadaan makam ini kurang menarik dan sudah mendapatkan pemugaran oleh Karang Taruna Provinsi Sumatera Utara dan tentunya membutuhkan perhatian kita semua karena berada di tempat yang biasa-biasa saja dan hal ini tentunya memerlukan upaya kita semua untuk memberikan tempat yang layak berupa Makam yang "seharusnya" bagi sang "founding father"- Pendiri Kota Medan yang kini menjadi Rumah Besar kita semua.
Reporter :Erianto Perangin Angin.
0
0
0
0
0
0