9 Jun 2026 - 65 View
Bukittinggi, RedaksiDaerah.com – Perhelatan akbar International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang disandingkan dengan peringatan 100 Tahun Jam Gadang sukses menyedot perhatian dunia. Berlangsung pada 3–7 Juni 2026 di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, ajang bergengsi ini dihadiri oleh delegasi dari 37 negara, sejumlah Duta Besar, serta Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi.
Di antara deretan peserta, delegasi Bundo Kanduang KKTD (Kerukunan Keluarga Tanah Datar) Luhak nan Tuo Jabodetabek tampil memukau dan mengambil peran strategis dalam berbagai rangkaian kegiatan berskala internasional tersebut.
Luncurkan 2 Buku Internasional hingga Aksi Teatrikal
Ketua Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek, Mira Gusniwati, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar untuk meramaikan, melainkan bertindak sebagai delegasi resmi dalam peluncuran 100 buku internasional.
Tidak tanggung-tanggung, BK KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek meluncurkan dua buku sekaligus:
Perempuan Penjaga Ranah Minang, yang merupakan karya kolaboratif Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek bersama Puti Bungsu.
Cultural Celebration of Universal Poetry, sebuah karya monumental Ketua Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek yang ditulis bersama para delegasi dari 37 negara.
Selain menorehkan prestasi di dunia literasi, mereka juga terlibat aktif dalam aksi lingkungan melalui penanaman 100 pohon di Tabiang Barasok. Di panggung budaya, perwakilan Bundo Kanduang ini tampil memukau saat membaca puisi dalam atraksi seni internasional ( Mira Gusniwati, Eva Mulusia, Windriati, dan Oktavia Ningsih) sertap mementaskan teatrikal puisi (Tim BK KKTD Luhak nan Tuo jabodetabek) yang diangkat langsung dari buku Perempuan Penjaga Ranah Minang.
Dipercaya Menjadi Master of Ceremony (MC) Internasional
Eksistensi dan kapasitas intelektual perempuan Minang perantauan ini makin terbukti dengan dipercayanya mereka sebagai pemandu acara (Master of Ceremony) pada agenda-agenda utama festival.
Mira Gusniwati didapuk menjadi MC pada Seminar Utama yang mengusung tema "Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif", bersanding dengan Zamri, delegasi asal Brunei Darussalam.
Windriati, yang merupakan salah satu pengurus BK KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek, juga sukses memandu jalannya atraksi seni internasional bersama Zamri dan Odie pada tanggal 4 dan 5 Juni malam di pelataran ikonik Jam Gadang.
Raih Penghargaan Barisan Terbanyak di Peragaan Busana Adat
Puncak kemeriahan yang paling mencuri perhatian terjadi pada Sabtu, 6 Juni 2026. Bersinergi dengan Bundo Kanduang dari ranah (Tanah Datar), mereka ikut serta dalam Peragaan 1000 Perempuan Berbusana Minang.
Dalam momen ini, BK KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek berhasil menyabet penghargaan sebagai peserta dengan barisan terbanyak, dengan total 424 orang. Barisan ini tampil anggun dan memikat dengan memamerkan kekayaan warisan pakaian adat khas Luhak Nan Tuo, di antaranya:
Baju Milik dari Padang Magek
Baju Bakambi dari Turawan
Baju Basimbek dari Padang Lua
Baju Kuruang Basiba dari Balimbiang
baju kuruang basiba dengan Pariuak dan Balango dari Galogandang
Berbagai busana adat Tanah Datar yang indah dan cantik dikenakan oleh Bundo-Bundo dari Sungai Jambu, Paninjauan, X Koto, Pariangan, hingga Tabek.
Dukungan Penuh dari Kampung halaman dan Rantau
Kesuksesan luar biasa delegasi Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek ini tidak lepas dari sokongan solid internal organisasi. Apresiasi dan dukungan penuh mengalir dari Ketua Umum KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek, Dr. Yuherman, S. H, M. Kn, Sekretaris Umum Zurlen, S. H, serta jajaran pengurus KKTD Jabodetabek lainnya.
Selain itu, sinergi dan dukungan juga datang dari tokoh Tanah Datar dan juga IKPM Jabodetabek, Ketua IKPM Jabodetabek, H. Alisar, S. E, yang secara konsisten terus mendorong Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek untuk membawa dan mengharumkan nama Tanah Datar di kancah internasional.
Lewat ajang IMLF ke-4 dan seabad Jam Gadang ini, Bundo Kanduang KKTD Luhak nan Tuo Jabodetabek tidak hanya berhasil melestarikan tradisi, tetapi juga membuktikan bahwa literasi dan budaya Minangkabau mampu berbicara lantang di panggung dunia.
Reporter: Fernando Stroom
Editor::RD TE Sumbar
Sumber: Rilisan
0
0
0
0
0
0