11 Okt 2025 - 1827 View
Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Sungguh ironi yang menusuk nurani. Di tengah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, pemandangan memilukan justru tersaji di Kecamatan Lima Kaum. Sebanyak 80 orang Qori dan Qoriah yang datang mewakili lima nagari peserta MTQ Nasional ke-VI tingkat Kecamatan Lima Kaum, harus duduk di lantai halaman Masjid Raya Lima Kaum — tanpa alas, tanpa kursi, tanpa penghormatan. Sabtu, 11 Oktober 2025.
Padahal mereka adalah bintang utama dari kegiatan ini. Namun, justru dibiarkan seperti penonton tanpa tempat, seolah-olah kehadiran mereka hanya formalitas.

(Keterangan foto: Tampak deretan pejabat duduk nyaman di kursi empuk barisan depan saat pembukaan MTQ Nasional ke-VI Tingkat Kecamatan Lima Kaum, sementara para peserta qori dan qoriah tampak mengikuti acara dari area terbuka di halaman masjid.)
Kegiatan yang Tak Siap, Panitia yang Tak Sigap
Menurut pantauan wartawan RedaksiDaerah.com, sejak pagi pukul 08.00 WIB, seluruh peserta melakukan pawai arak-arakan sejauh ± 3 kilometer dari Lapangan Bola Kaki Lima Kaum hingga ke Masjid Raya. Setelah perjalanan melelahkan itu, bukannya disambut dengan fasilitas layak, mereka justru harus bersila di atas lantai halaman masjid di bawah terik matahari.
Seorang official peserta dari salah satu Nagari yang enggan disebutkan namanya menuturkan getirnya pengalaman tersebut.
“Kami sedih sekali. Dikatakan ini acara keagamaan, tapi panitianya seolah tak siap. Kami diundang, tapi tak disediakan tempat duduk sama sekali,” ujarnya lirih.

Ketua LPTQ Akui Panitia Tak Siap
Ketua LPTQ Kecamatan Lima Kaum, H. Zulhermi, S.Ag, saat dikonfirmasi memberikan jawaban singkat saja dan membenarkan kekacauan ini.
“Memang benar, tidak ada kesiapan sama sekali dari panitia,” katanya dengan sikap cuek dan tanpa banyak alasan.
Pernyataan yang jujur, tapi justru makin memperjelas bahwa pelaksanaan MTQ kali ini jauh dari kata profesional.
Camat Lima Kaum: Akui Kekurangan, Salahkan Anggaran.
Camat Lima Kaum, Beni Oriza, SE, yang baru menjabat, mengakui ada banyak kekurangan. Ia berdalih bahwa pemotongan anggaran menjadi penyebab utama minimnya fasilitas.
“Kami akan evaluasi dan pastikan ke depan lebih baik. Ini juga bagian dari persiapan untuk MTQ tingkat kabupaten di Pariangan tahun 2026,” jelasnya.
Namun alasan ini tak cukup menenangkan publik. Karena bagaimanapun, kegiatan keagamaan bukan sekadar seremoni, melainkan ajang pembinaan moral dan penghormatan kepada penghafal serta pembaca Al-Qur’an.
Walinagari Ikut Kecewa
Walinagari Lima Kaum, Fadli Tarmizi, SH, juga selaku tuan rumah membenarkan kelalaian panitia.
“Ya, benar. Para khafilah tidak diberi tempat duduk. Itu memang terjadi, mau diapakan lagi,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Walinagari Cubadak, Anggerno Perawito, S.Pd, dengan nada kekecewaannya.
“Ya, mau bagaimana lagi itu yang terjadi. Panitia benar-benar belum siap,” tegasnya.
DPRD Turun Suara: Evaluasi Total dan Tambah Anggaran
Anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar, H. Ir. Herri Wildani, yang juga putra asli Lima Kaum, menilai masalah ini bukan sekadar soal kursi, tapi soal tata kelola dan penghormatan terhadap nilai-nilai Islam.
“Keterbatasan anggaran bisa dimaklumi, tapi kekurangan empati tidak bisa dimaafkan. Kita akan evaluasi ini dan perjuangkan pendanaan lebih baik di MTQ mendatang,” tegasnya.
Wildani juga menekankan bahwa MTQ bukan sekadar lomba, tapi wadah pembinaan akhlak dan syiar Islam. Maka, penghormatan terhadap peserta seharusnya menjadi prioritas.
Sementara dua anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar, Agus Tofik dari partai PPP dengan Wel Ahmad, S, Sos, MM dari partai Demokrat saat diwawancarai oleh awak media ini tentang kejadian para khafilah yang tidak diberi tempat duduk di acara MTQ Nasional ke VI tingkat Kecamatan Lima Kaum, mereka hanya mengatakan, "No komen.!!!"
Warga: “Ini Bukan MTQ, Ini Malu Besar!”
Seorang warga yang hadir di lokasi tak kuasa menahan amarah.
“Panitia tidak memanusiakan manusia! Ini bukan MTQ, ini pelecehan moral. Masa tamu dan peserta duduk di tanah, sementara pejabat duduk di kursi empuk?!” katanya geram.
Ia juga menyebut, tidak ada makan siang untuk para peserta dan tamu, menambah daftar panjang ketidaklayakan acara.
Refleksi Kritis: Ketika Syiar Hilang, yang Tinggal Hanya Seremonial
Kegiatan MTQ seharusnya menjadi simbol kemuliaan dan penghargaan terhadap para penghafal Al-Qur’an, bukan malah mempermalukan mereka di depan publik. Ketidaksiapan panitia, alasan anggaran, dan ketimpangan perlakuan terhadap tamu dan peserta menunjukkan krisis kepemimpinan dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan.
Jika hal ini dibiarkan, makna spiritual MTQ akan terkubur oleh ketidaktegasan dan formalitas kosong.
Catatan Redaksi:
Kegagalan panitia MTQ di Lima Kaum bukan hanya soal logistik — ini soal rasa hormat terhadap mereka yang membawa cahaya Al-Qur’an. Jika panitia tak mampu mengatur kursi dan alas duduk, bagaimana mungkin bisa mengatur nilai-nilai luhur dalam acara sebesar MTQ?
Semoga MTQ berikutnya tak lagi menjadi ajang seremonial yang kehilangan ruh kemuliaannya. Karena membaca Al-Qur’an itu ibadah, tapi memperlaku
kan pembacanya dengan hormat — itu akhlak.
---
Reporter: Fernando
Editor: RD TE Sumbar
0
5
0
1
2
2