1 Apr 2021 - 602 View
Jakarta, RedaksiDaerah.com - Beredar video di salah satu group WhatsApp Ikatan Keluarga Alor I pada hari Kamis (01/04/2021) pagi, yang bersumber dari channel youtobe dengan judul “Lahuin Anaifar Official”.
Menyuguhkan kepada masyarakat betapa buruknya kualitas sebuah fisik pekerjaan yang diduga asal jadi yang dikerjakan oleh oknum kontraktor di wilayah Kokar, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski belum diketahui pasti, siapa oknum kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, namun dalam video yang berdurasi 5 (lima) menit 53 (lima puluh tiga) detik itu, terlihat seorang aktivis asal Alor, Nusa Tenggara Timur terkonfirmasi bernama Gerson Blegur dengan mengenakan baju kaos putih bertuliskan I Love Alor dan berkomentar atas kondisi pekerjaan yang kuat dugaan dikerjakan asal-salan oleh kontraktor.
“Saya hari ini berada dilokasi proyek jalan Provinsi, ruas jalan Kokar, Tulta, Mali namanya. Anggarannya kurang lebih sepuluh, sebelas miliar yang dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi, Pemerintah PU tahun anggaran 2020,” tutur Gerson memulai komentarnya.
Menurutnya, oknum kontraktor dalam pekerjaan pasangan saluran maupun tembok penahan telah menggunakan batu cadas atau batu karang yang menurut Gerson idealnya tidak boleh digunakan dalam pekerjaan seperti itu. Dia bertutur bahwa harusnya kontraktor menggunakan batu kali atau batu pantai dalam pekerjaan yang diinvestigasikannya itu. Alhasil, Gerson menilai bahwa pekerjaan dimaksud tidak sesuai spek.
“Nah, ini kualitas pasangan seperti ini, pasangan saluran maupun tembok penahan seperti ini kontraktor menggunakan, ini namanya batu cadas ini. Ini kontraktor menggunakan batu cadas, ini spek yang tidak dibolehkan,” demikian Gerson menjelaskan dengan mengambil posisi jongkok di sisi tembok penahan yang kasat mata terpantau dikerjakan asal-asalan itu, sambil sesekali mengetok-ngetokkan batu cadas di genggaman tangan kanannya pada permukaan pasangan tembok penahan, dengan tangan kiri yang kokoh bertumpuh pada permukaan tembok penahan yang terlihat rapuh.
Usai mengetok-ngetokkan permukaan tembok penahan, sambil terus berkomentar. Gerson terlihat memantul-mantulkan sebongkah batu cadas dengan menggunakan telapak tangan kanannya.
Pantulan cadas itu diiringi ajakan Gerson kepada awak media dan para aktivis untuk mempertanyakan kelayakan spek dalam hal penggunaan batu cadas pada pekerjaan pasangan saluran maupun tembok penahan semacam itu.
Terpantau dalam video tersebut, Gerson meminta awak media mempertanyakan keabsahan perhitungan RAB pekerjaan seperti itu kepada pihak tertentu yang berkompeten, tentang kelayakan penggunaan batu cadas dalam pekerjaan seperti yang dikomentarinya dalam video dimaksud.
“Coba-coba teman-teman media cek, RAB di mana saja. Di PU, di jalan, hmm, di proyek Provinsi, proyek Kabupaten, maupun APBN, coba cek. Tidak ada yang namanya penembokan atau saluran digunakan batu karang atau batu cadas ya,” pintanya kepada awak media.
Diapun kemudian mencontohkan Kota Kupang yang dikenal sebagai Kota Karang, tetapi dalam pekerjaan proyek seperti itu, Gerson bertutur bahwa tidak pernah kontraktor menggunakan batu casdas dalam kategori pembangunan serupa itu di Kota Kupang.
“Kota Kupang, yang kota karang sekalipun, proyek-proyek dalam kota tidak pernah pakai batu yang kayak gini. Gitu. Yang dimungkinkan adalah batu bulat. Batu bulat, batu kali atau batu pantai namanya. Kualitas seperti ini,” kritik Gerson sembari memantul-mantulkan kembali sebongkah batu dari genggamannya, tetapi kali ini tak lagi batu cadas tetapi sebongkah batu kali.
“Yang ini salah ini. Tidak boleh ini,” ucapnya sambil merangkak dua tapak kedepan kamera wartawan, sembari menjangkau dan memungut sebongkah batu cadas di depannya dan kembali melontar-lontarkannya ke atas beberapa kali.
“Coba teman-teman media, teman-teman Pers tolong cek ini, masyarakat tentunya. Dukungan masyarakat, saya dukung,” lanjut dia.
Tak hanya sampai di situ, Gerson mengkritisi fisik bangunan yang menurutnya telah menghabiskan uang sekira 11 (sebelas) miliar rupiah dengan hasil mengecewakan itu. Diapun melanjut dan mempermasalahkan campuran atau adukan spesi yang menurutnya sudah sangat jauh dari spek, yang tentunya telah disyaratkan dalam sebuah pekerjaan fisik semacam itu.
“Yang kedua kualitas campuran. Gitu. Dalam spek itu, kualitas campuran yang ideal itu kira-kira kurang lebih empat satu, atau lima satu, atau enam satu, toleransi enam satulah, itu kuat. Tapi kalau yang ini, ini kayak gini ni. Pakai jari saja dia sudah seperti ini,” papar Gerson sembari menggesek-gesekkan ibu jari kanannya pada permukaan tembok penahan yang terlihat rapuh dan mulai terkikis jatuh ke tepian tembok yang tak pantas disebut tembok penahan itu.
Tak puas sampai di situ, setelah menggunakan ibu jarinya, Gerson kemudian memungut sebongkah batu lantas mengetokkannya secara perlahan pada tepi tembok penahan itu. Terlihat tepi tembok penahan mulai meretak dan terkikis lebih besar lalu meluruh jatuh mengepulkan debu, mewakili logika berpikir manusia atas sebuah perbandingan spesi yang tak wajar dalam dunia konstruksi. Spesi yang lebih lanjut diestimasikan Gerson sebagai spesi yang ukurannya adalah satu berbanding dua puluh.
Pasalnya, terpapar jelas dalam video tersebut, meski hanya dengan beberapa ketokan perlahan dari cadas yang dibentur perlahan oleh Gerson, tembok penahan itupun luluh lantak membiaskan debu di sisi jalan yang tak terawat, yang cukup tegas mewakili bahwa keberadaan fisik bangunan itu tidaklah sepadan dengan besarnya anggaran yang disebut Gerson bernilai lebih kurang 11 (sebelas) miliar rupiah, yang telah digelontorkan Pemerintah Provinsi NTT untuk menyelesaikan proyek dimaksud.
Ironis memang, tetapi rekaman video itu jelas menunjukkan kebenaran fakta lapangan, hingga membuat Gerson meradang dan terus menumpahkan isi hatinya yang melukiskan kekecewaan dia sebagai rakyat, yang sesungguhnya berhak menikmati pembangunan berkualitas prima di daerahnya.
“Ini ni, seperti ini ni. Kuatnya campuran seperti ini,” ujar Gerson sambil terus mengetok-ngetokkan cadas itu pada permukaan tembok penahan yang terlihat sangat rapuh.
Pantauan wartawan pada video tersebut, jelas, bahwa fisik bangunan sangat tidak berkualitas alias asal dikerjakan oleh oknum kontraktor, yang kuat dugaan hanya mengedepankan keuntungan yang besar tanpa mempedulikan kualitas pekerjaan yang sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan umum, termasuk kontraktor itu sendiri.
“Ini berapa satu (perbandingan campuran / sepesi,Red) tidak tahu. Ini seperti ini. Kuatnya campuran seperti ini. Gitu. Jadi ini kami bukan cari-cari kesalahan, kami bukan cari-cari kesalahan kontraktor tapi memang benar-benar salah,” lanjut Gerson sambil meremas-remas hasil reruntuhan permukaan tembok penahan di telapak tangan kirinya, dan terlihat campuran itu hancur menyisakan abu di genggamnya.
“Saya duga ini pasangannya dua puluh berbanding satu ni. Seperti ini ni,” ungkap Gerson yang terlihat kembali menghujamkan perlahan bongkahan batu di tangannya pada permukaan tembok penahan, dan kembali menimbulkan rontokkan disertai kepulan debu.
“Masyarakat bisa lihat ini. Masyarakat bisa lihat. Gitu. Seperti ini kualitasnya. Gitu,” ungkapnya sambil sesekali memungut hasil reruntuhan dan menjatuhkan kembali. Terlihat, pasir bercampur semen, yang tak berimbang perbandingannya itu meluruh jatuh membiaskan abu di tepi jalan provinsi, yang terlihat sangat jauh dari nilai estetika sebuah bangunan berlevel provinsi, yang harusnya mampu mengkristalisasikan besaran anggaran yang telah dipergunakan dalam pembangunan proyek dimaksud kepada masyarakat Alor.
“Seperti ini kualitasnya jadi mari kita sama-sama kawal, media, teman-teman aktivis, masyarakat, khusunya masyarakat Kokar ya? Mari kita kawal. Sama-sama kawal. Gitu. Masyarakat Abal ya? Mari kita kawal bersama.”
Gerson dalam komentarnya itu menyinggung juga sumber anggaran proyek tersebut dan jaminannya. Menurut dia, sumber anggaran proyek itu berasal dari Bank NTT dengan menjadikan kepala warga Alor sebagai jaminannya, ”Ini proyek sumber keuangannya adalah Bank NTT, Pemerintah Provinsi pinjam, jaminannya adalah jaminan kepala kita warga-warga Alor ini. Jaminannya. Gitu. Baru Pemerintah dapat uang sebanyak itu, datang bangun infrastruktur di kampung kita. Mari kita sama-sama kawal,” ajak Gerson kepada warga Alor agar bersama-sama mengawal pembangunan infrastruktur di Alor.
Diakhir komentarnya pada item pertama di video yang diunggah tanggal 31 Maret itu, Gerson mengajak masyarakat Alor agar jangan merasa takut mengungkap kebenaran, “Jangan, jangan ini ya. Untuk satu kebenaran jangan takut ya? Mari. Kita kawal bersama. Kualitas seperti ini. Mari kita kawal ya?,” tutup Gerson seraya meminta awak media untuk bersama dia melihat item proyek lainnya.
Hingga berita ini diposting, wartawan belum berhasil mengonfirmasi Gerson selaku narasumber di dalam video tersebut, sehingga belum diketahui pasti kapan waktu kejadian pengambilan rekaman yang diposting channel yotobe Lahuin Anaifar Official tersebut dilangsungkan.
Berdasarkan pantauan media RedaksiDaerah.com, video dimaksud telah ditonton 143 kali, disukai 5 pengunjung dan menuai 2 komentar pengunjung.
Pantauan wartawan, pengunjung atas nama Edy Maukafely berkomentar bahwa proyek tak berkualitas itu adalah masalah serius yang perlu dibawa ke ranah pidana, "Aparat pnegak hukum harus segera bertindak. Ini masalah serius. Kontraktor, Konsultan Pengawas, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), semua yang terlibat harus ditindak tegas. Bukti dr youtube ini bisa ditunjukkan sebagai data awal untuk pnindakam??," tulis Edy.
Sementara, pengomentar lainnya, 1Channel Caera Favorit menyimpulkan di kolom komentarnya, bahwa proyek bermasalah ini tidak bisa di diamkan.
"Itu kontrakan harus di kejar sampai tuntas. Tidak bisa didiamkan," demikian kutipan komentar 1Channel.
Anda tertarik untuk melihat langsung videonya? Mungkin juga tergerak untuk berkomentar? Silakan klik di sini dan tonton videonya, lalu mari kita kawal bersama sebagai bagian dari tanggung jawab kita selaku warga negara yang baik, yang hak-hak kewarganegaraan kita dilindungi konstitusi untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa.
Sebagai masyarakat yang sadar hukum, yang memiliki kepedulian akan keturutsertaannya dalam hal pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di berbagai pelosok negeri, termasuk di Kabupaten Alor, khususnya dalam menyikapi proyek bermasalah yang sementara diinvestigasikan rekan-rekan aktivis di Kabupaten Alor yang kuat dugaan terindikasi praktik KKN dalam pelaksanaannya.
- Tim Redaksi -
0
1
0
0
0
0