Redaksi Sumbar

Warga dan aparat nagari tampak berdiri dalam lumpur pekat, menggali timbunan tanah dengan cangkul dan linggis seadanya. Di belakang mereka, lereng curam yang retak mengancam runtuh, sementara wajah-wajah kelelahan terpampang jelas, menggambarkan perjuangan yang tak mengenal jeda.

Tiga Hari Mencari di Tengah Duka: Ma’kudun Masih Tertimbun, Warga Batipuh Baruah Tak Menyerah

29 Nov 2025 - 92 View

Warga dan aparat nagari tampak berdiri dalam lumpur pekat, menggali timbunan tanah dengan cangkul dan linggis seadanya. Di belakang mereka, lereng curam yang retak mengancam runtuh, sementara wajah-wajah kelelahan terpampang jelas, menggambarkan perjuangan yang tak mengenal jeda.

Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Suasana muram belum juga pergi dari Nagari Batipuh Baruah. Di hari ketiga pasca-longsor besar yang menyapu tiga jorong sekaligus, harapan keluarga dan warga semakin menipis. Tubuh Ma’kudun (55) yang masih tertimbun belum berhasil ditemukan. Setiap jam yang berlalu seolah menambah berat beban batin masyarakat. Tumpukan material longsor menjulang seperti dinding kematian yang menyulitkan tim pencari mendekat, sementara ancaman longsor susulan terus mengintai dari lereng yang sobek dan rapuh.

 

Wali Nagari Batipuh Baruah, Mulyadi BJ, menegaskan bahwa upaya pencarian tidak bisa dilaksanakan secara gegabah. Hujan deras yang masih mengguyur sejak bencana terjadi memaksa tim gabungan bergerak dalam ketegangan penuh. “Kami tidak bisa mengorbankan nyawa lain. Tanahnya labil, setiap langkah bisa memicu runtuhan baru,” ujarnya dengan suara berat. Evakuasi harus dilakukan dengan perhitungan presisi, karena zona bencana kini berubah menjadi medan rawan yang tak memberi ruang sedikit pun untuk kesalahan.

 

Kerusakan yang ditinggalkan bencana ini tidak sekadar luas—ia melumpuhkan. Di Jorong Pancuran Tujuh, Gunuang Bunsu, hingga Payo Rapuih, lanskap berubah total. Lahan produktif satu hektar lebih rata oleh tanah yang turun, sementara lima rumah warga hancur tak berbentuk. Sisa dinding yang miring, kayu-kayu patah, hingga pakaian yang bercampur lumpur menjadi saksi bisu betapa cepatnya hidup masyarakat berubah dalam hitungan detik. Banyak keluarga kini kehilangan tempat tinggal dan pijakan mental sekaligus.

 

Seorang warga Jorong Pancuran Tujuh, Sarmedi (48), yang rumahnya tersapu longsor, tak mampu menahan suara bergetar ketika menceritakan menit-menit mencekam itu. “Kami hanya dengar suara gemuruh seperti gunung runtuh. Dalam sekejap semuanya gelap. Saya teriak panggil Ma’kudun, tapi tak ada jawab. Hati kami hancur… sampai sekarang kami masih menggali dengan tangan sendiri kalau perlu,” tuturnya. Air matanya jatuh, namun tangannya tetap bekerja membantu tim pencari—sebuah bukti bahwa duka tak mematikan keinginan untuk berjuang.

 

Dalam tragedi ini, lima orang menjadi korban amuk alam. Empat di antaranya—Ardi Datuk Jolabiah, Kepala Jorong Payo Rapuih, Angku Itam, dan Saparudin—berhasil dievakuasi dalam keadaan luka-luka dan kini dirawat di rumah masing-masing. Namun, keberadaan Ma’kudun yang masih tertimbun menambah tekanan emosional bagi warga. Mereka sadar keterbatasan peralatan dan akses menjadi hambatan berat, tetapi menyerah bukan pilihan. Korban harus ditemukan—hidup atau sudah tak bernyawa—karena keluarga menolak pasrah pada takdir yang menggantung.

 

Sekitar 500 warga kini mengungsi, meninggalkan rumah dan ladang mereka yang telah berubah menjadi zona bahaya. Pengungsian ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan kehidupan. Banyak yang hanya membawa pakaian di badan, menunggu bantuan logistik datang sambil memikirkan bagaimana mereka membangun ulang masa depan. Situasi ini menuntut respon cepat, karena kebutuhan dasar—air bersih, makanan, dan obat-obatan—harus terus dipenuhi agar tak berubah menjadi krisis kemanusiaan lanjutan.

 

Di lapangan, masyarakat dan aparat nagari berjibaku tanpa menunggu alat berat yang datang terlambat akibat akses jalan yang ambles. Hari pertama dan kedua, warga menggali dengan cangkul, linggis, bahkan tangan kosong. Mereka bekerja bergantian, berdiri dalam lumpur setinggi lutut dengan wajah letih namun tekad yang tak surut. “Kami tidak punya pilihan. Korban masih di bawah sana, dan kami tak mungkin diam,” kata salah seorang pemuda yang terus menyodok tanah di sela hujan. Butuh tiga hari hingga kendaraan roda empat bisa mencapai lokasi, sebuah ironi pahit dalam situasi darurat.

 

Bencana ini menampar kesadaran publik bahwa Batipuh Baruah berada di wilayah rawan. Zona Patahan Semangko, yang sejak lama dikenal aktif, rupanya kembali memperlihatkan taringnya. Bukan sekadar tanah longsor biasa—ini adalah konsekuensi geografis yang menuntut kewaspadaan permanen. Meskipun Bupati dan BPBD telah hadir di lokasi, masyarakat berharap lebih dari sekadar kehadiran simbolis. Dibutuhkan tindakan konkret, percepatan mitigasi, dan keputusan radikal untuk memastikan ratusan warga tidak terus hidup di tepi jurang bahaya yang sama, menunggu bencana berikutnya.

 

---

Reporter: Fernando Stroom 

Editor: RD TE Sumbar 

Sumber: Liputan 

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

0

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

0

Wow
funny

0

Lucu
angry

0

Marah
sad

0

Sedih