25 Feb 2026 - 6 View
Pasuruan, RedaksiDaerah.com - Bagi Tomi Budi Susanto, karate bukan sekadar olahraga bela diri. Sejak pertama kali mengenal seni bela diri ini pada 1995 saat masih duduk di bangku kelas 5 SD, karate telah menjadi kompas moral hidupnya. Pria kelahiran Banyuwangi, 4 Oktober 1982 itu memaknai karate sebagai sekolah kehidupan, tempat ia belajar tentang karakter, disiplin, dan kejujuran.
"Di karate, kita diajarkan kepribadian, rasa sopan santun dan patuh pada kejujuran," kenang Tomi. Prinsip inilah yang ia pegang teguh hingga kini ia mendedikasikan hidupnya sebagai pelatih di bawah naungan perguruan Shokaido.
Perjalanan Tomi tidak lepas dari sosok-sosok pelatih yang membentuknya. Baginya, setiap pelatih adalah orang tua kedua yang wajib dihormati. Ia menerapkan prinsip tawadhu (rendah hati dan patuh) kepada para gurunya. Mentalitas inilah yang kemudian ia tularkan kepada para muridnya di bawah payung Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jawa Timur.
Baginya, memilih Shokaido didasari oleh keyakinan murni. Ia percaya bahwa semua perguruan memiliki tujuan mulia sama, selama berada dalam jalur pembinaan prestasi yang benar.
Di tengah kesibukan kerja, melatih karate justru menjadi "obat" bagi Tomi. Ia tidak pernah merasa jenuh atau terbebani. Sebaliknya, berada di tengah anak-anak didik adalah hiburan yang membuatnya lepas dari tekanan hidup. "Melatih bagi saya adalah hiburan. Dengan banyaknya penyakit dan tantangan zaman sekarang, kita harus loss tanpa tekanan," ungkapnya dengan nada optimis.
Tantangan terberat yang ia hadapi selama bertahun-tahun bukanlah kurangnya sarana, karena dukungan sekolah-sekolah di lingkungannya sudah sangat mumpuni, melainkan satu kata yakni Sabar.
Momen yang paling membekas dalam ingatan Tomi adalah pada 2014, saat salah satu murid didikannya berhasil menembus Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Prestasi itu adalah buah dari ketelatenan dalam mengolah karakter anak-anak yang berbeda satu sama lain.
Dalam membangun kepercayaan orang tua, Tomi mengandalkan keteguhan dan kedisiplinan. Ia sadar bahwa setiap anak memiliki proses yang unik. "Membentuk mental juara menuntut kesabaran dan ketelatenan karena setiap anak tidak bisa disamakan," jelas Tomi yang kesehariannya bekerja di Taman Dayu Pandaan, pada Rabu, 25 Februari 2026.
Langkah Tomi mendapat restu penuh dari keluarganya. Meski secara materiil mungkin tidak berlimpah, ia memegang prinsip keberkahan. "Keluarga sangat mendukung. Dengan pemasukan sedikit, yang penting berkah," tuturnya penuh syukur.
Kini, impian Tomi sangat sederhana namun mulia, ia ingin melahirkan atlet sabuk hitam sebanyak mungkin untuk membesarkan nama Shokaido dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia olahraga.
Bagi Tomi, hidup adalah tentang bersyukur atas apa yang Tuhan berikan hingga detik ini. Di sela-sela jadwal kerjanya, ia akan terus berdiri di atas matras, menyalurkan jiwa, dan menempa generasi muda dengan semangat kejujuran dan kedisiplinan.
Reporter: Ana
Editor: RD TE Jatim
0
0
0
0
0
0