logo

redaksi daerah
Redaksi Nusantara

Nusantara | Nasional

Redaksi Nusantara

Anggota DPR RI Guspardi Gaus : Perlakuan Mabes Polri kepada Aktifis KAMI Berlebihan

Anggota DPR RI Drs H Guspardi Gaus, M.Si asal Sumatera Barat

Jakarta |RedaksiDaerah| - Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) telah menetapkan Tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yaitu aktivis reformasi Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat serta sejumlah tokoh lainya sebagai tersangka dalam rangkaian aksi anti UU Cipta Kerja. Namun, dengan  cara mempertontonkan tersangka serta memborgol tangan tersangka menuai sorotan dari politisi Partai Amanat Nasional (PAN).

Ironisnya, Mabes Polri mempertontonkan mereka ke publik dalam acara konferensi pers. Selain dikenakan baju tahanan berwarna orange, tangan mereka juga di borgol. Tindakan aparat mempertontonkan tokoh KAMI dengan penampilan seperti itu dikritik banyak pihak karena seharusnya dalam konteks kasus mereka tidak perlu sampai seperti itu.

Anggota DPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus menyampaikan, rasa prihatin dan sedih melihat perlakuan Mabes Polri terhadap anggota KAMI yang di pertontonkan dengan memakai rompi orange dan tangan dalam keadaan terikat / diborgol. Mereka itu bukan penjahat, bukan koruptor, bukan juga tahanan politik apalagi teroris. Polisi dalam hal ini bertindak sangat berlebihan.

Legislator dapil Sumbar 2 ini mengatakan, sebagai pengayom masyarakat, Polisi seharusnya lebih bijaksana mengambil tindakan dalam menegakkan keadilan dan  kebenaran. Kalau cara seperti ini memperlakukan para aktifis atau "mereka yang berbeda pendapat" seolah-olah penjahat dan dipertontonkan dimuka umum, tindakan itu diluar batas kepatutan. Dimana acara konferensi pers tersebut di liput dan disiarkan oleh berbagai media dan di tonton oleh masyarakat luas.

Polisi seharusnya bersikap lebih bijaksana dan manusiawi. Tindakan mempertontontonkan para tersangka  dalam kondisi menggunakan baju tahanan berwarna orange dan tangan yang terikat atau diborgol justru akan memperburuk citra korp Kepolisian di mata publik dan akan menimbulkan image hanya jadi alat kekuasaan, ujar politisi PAN kepada awak media, Jum'at (16/10/20).

Meskipun para anggota KAMI tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), sebaiknya mereka diperlakukan jangan seperti penjahat kriminal kelas berat. Perlakukan Mabes Polri terhadap mereka dalam kasus ini  sangat tidak tepat dan "off side".

Untuk itu, saya berharap Polisi bisa menjadikan kejadian ini sebagai autokritik terhadap korp Kepolisian agar bertindak lebih humanis dan jangan membuat citra polri yang dicintai sebagai pengayom dan pelindung masyarakat jadi makin turun di mata masyarakat, pungkas anggota Komisi 2 DPR RI tersebut.

Sebelumnya, diberitakan 6 (enam) orang aktivis KAMI ditangkap dan dijajarkan di hadapan publik saat konferensi pers yang digelar Polri mengenai kasus yang menjerat mereka pada hari Kamis 15 Oktober 2020.

Diketahui, baik Jumhur, Syahganda maupun Anton bukan merupakan 'orang biasa'. Jumhur adalah mantan pejabat di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia pernah menduduki posisi Kepala BNP2TKI atau yang kini menjadi BP2MI. Dia juga merupakan aktivis mahasiswa tahun '80-an dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang pernah dipenjara lantaran membangkang terhadap rezim Orde Baru.

Sama dengan Jumhur, Syahganda juga merupakan aktivis mahasiswa ITB '80-an, yang sempat divonis 10 bulan penjara akibat berdemonstrasi.

Sementara Anton, merupakan Ketua Pengurus Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI) Kepulauan Riau. Ia juga merupakan alumni Lembaga Ketahanan Nasional RI (Lemhannas). (Rel)

Apa Reaksi Anda ?

love
0
dislike
0
funny
0
angry
1
sad
1